Tampilkan postingan dengan label polres ponorogo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label polres ponorogo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Februari 2017

Pensiunan PNS Di Ponorogo Berhasil Mengembangkan Bibit Sawo Raksasa


info media PONOROGO - Seorang pensiunan PNS di Ponorogo, Jawa Timur, bernama Sutrisno (56) berhasil mengembangbiakan tanaman buah sawo raksasa atau Mamey sapote (Pouteria sapota) yang merupakan species tanaman pohon sawo dari Amerika Tengah
Ditemui di kebun buah miliknya di Jalan Rumpuk no107 B, RT 001/RW 004, Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan, Ponorogo, Sutrisno menceritakan bagaimana awalnya ia tertarik menanam sawo raksasa itu.
"Saya dulu belinya dari penjual bibit tanaman buah di Demak, harganya sekitar Rp 3,5 juta, " kata ayah dua anak ini.
Setelah empat tahun ditanam di kebunnya, tanaman sawo yang masih langka itu sudah mulai berbuah. Pohon sawo yang memiliki tinggi sekitar sepuluh meter itu kini sudah berumur sekitar sepuluh tahun.
Sutrisno menuturkan, disebut sawo raksasa karena ukuran buahnya memang lebih besar bila dibandingkan ukuran sawo lokal.
Satu buah mamey sapote yang sudah matang memiliki panjang sekitar 20 cm dan berdiameter 30 cm serta berat sekitar 3 kg. Di bagian dalam buah, terdapat satu biji.
Namun sayang, dibutuhkan waktu yang sangat lama, mulai dari muncul bunga atau kembang hingga akhirnya matang di pohon dan bisa dimakan.
"Harus masak di pohon, baru enak dimakan. Kira-kira sepuluh bulan, mulai dari kembang sampai benar-benar jadi buah yang matang," katanya.
Sutrisno mengatakan, selain beda ukuran, rasa buah mamey sapote ini juga berbeda dengan sawo lokal. Rasa sawo mamey sapote lebih manis serta tidak berair.
“Daging sawo ini seperti ubi Cilembu, manis dan legit, tidak berair,” katanya.
Ia mengatakan, karena baru memiliki satu pohon, ia belum berani untuk menjual buah sawo mamey sapote itu. Apalagi, buah mamey sapote hanya bisa dipanen sepuluh bulan sekali.
"Biasanya saya kasih gratis kepada tamu yang datang. Tapi bijinya tidak boleh dibawa," katanya.
Namun, bila ada yang tertarik membeli buah sawo mamey sapote ia menjualnya dengan harga Rp 250 ribu per biji.
“Harganya mahal. Saya sayang sama bijinya. Soalnya biji di satu buah hanya ada satu. Kalau ada yang memang benar-benar kepingin baru saya jual, harganya Rp250.000 per buah,” jelas dia.
Karena belum bisa menghasilkan buah sawo dalam jumlah yang banyak, dia lebih memilih untuk mengembangkan bisnis bibit buah sawo mamey sapote.
Dalam sebulan dia bisa menghasilkan belasan bibit sawo dengan cara dicangkok dan stek. 
Harga yang ditawarkan untuk satu bibit sawo mamey sapote itu bervariasi mulai dari puluhan ribu rupiah hingga Rp2 juta per bibit.
"Kalau yang dari biji, umur empat bulan harganya Rp 250 ribu. Kalau yang cangkok umur dua bulan Rp 1 juta hingga 1,5 juta," katanya.
Sutrisno mengaku, sawo raksasa banyak diminati oleh para penghobi dan penggemar tanaman langka. Para pemvelinya rata-rata berasal dari luar kota.
"Saat ini kami baru membuat stek 13 bibit dan semuanya sudah dipesan orang dari Riau,” kata pria yang mengaku belajar berkebun dari majalah dan internet ini.
Selain menjual bibit sawo raksasa, dia juga menjual bibit sawo hasil persilangan antara bibit sawo jumbo dengan sawo manila atau sawo kecik. Untuk bibit sawo hasil persilangan ini dia jual Rp 50 ribu per bibit.
Selain menjual bibit sawo, Sutrisno juga menjual beragam jenis bibit buah-buahan langka. Di antaranya bibit Srikaya jumbo, alpukat jumbo, cempedak king, anggur merah batang, jambu deli, kurma, dan kelapa kopyor.
Sutrisno mengaku dari hasil menjual beraneka bibit sawo dan tanaman lainnya di kebunnya, dalam sebulan dia bisa mendapatkan omzet hingga Rp50 juta.
"Sebulan kira-kira omzetnya ya sekitar Rp 50 juta," kata Sutrisno.
Karena pendapatan yang menggiurkan ini, Sutrisno yang sebelumnya bekerja sebagai PNS di Pemkab Ponorogo akhirnya memutuskan pensiun dini.
"Mestinya saya pensiunnya Agustus 2018, tapi saya mengundurjan diri tahu 2014," katanya.
Saat ini dia sudah memiliki seorang pegawai dan lima anak asuh untuk mengelola kebun seluas 3.000 meter persegi di samping rumahnya.
Read more

Rabu, 15 Februari 2017

Muncul Kembali Foto Bugil Akun FB Abal-Abal Istri Kades di Ponorogo


info mediaSetelah sempat bungkam, Kepala Desa Pudak, Yaimun mau membuka mulut tentang foto bugil sang istri yang tengah viral di dunia media sosial (medsos), Facebook.

Yaimun mengatakan, foto yang beredar di Facebook memang benar wajah istrinya, Sri Wahyuni. Namun ada beberapa foto yang diedit.

"Kalau wajah memang wajah ibu (Sri Wahyuni-red). Tapi ada yang diedit beberapa fotonya," katanya kepada beritajatim.com, Rabu (15/2/2017) melalui telepon.

Dia mengatakan bahwa akun facebook yang bernama 'Sri Sri' kembali ada setelah kemarin sempat tertutup. Dia menjelaskan akun Facebook 'Sri Sri' yang kedua kalinya juga palsu.

"Istri saya punya akun facebook yang asli. Yang ada foto istri saya dengan keadaan tidak senonoh jelas abal-abal bukan punya istri saya," katanya.

Memang muncul kembali akun facebook dengan nama 'Sri Sri'. Dengan foto profil yang sama, yakni Sri berfoto selfie hanya menggunakan bra.

Namun, untuk foto sampulnya, jika akun yang lama foto Sri dengan menggunakan baju. Kali ini foto buku. Pun di dalam akun facebook yang tidak terkunci tersebut, ada foto Yaimun yang diupload dengan kata-kata kasar.

Diberitakan sebelumnya, Entah apa yang terlintas dipikiran Sri Wahyuni (40) warga Dusun Kades, Desa Padak, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo. 

Istri dari Kepala Desa Padak secara sadar mengupload foto bugilnya di akun media sosial, facebook miliknya, 'Sri Sri'. Bahkan foto bugil tersebut dijadikan foto profil di Facebook. Tidak hanya itu ada beberapa foto yang juga sengaja diupload. 

Ada foto yang menunjukkan payudara dengan menggunakan bra, ada foto yang menunjukkan payudara tanpa menggunakan bra. Bahkan ada foto yang sampai menunjukkan alat kemaluan wanita. Parahnya, foto tersebut sudah menjadi viral hampir sepekan. Dan sudah menyebar dari smartphone satu ke smartphone lainnya.
Read more

Selasa, 14 Februari 2017

TKI Asal Ponorogo Alami Kekerasan di Singapura hingga Menderita Gangguan Psikologis


info mediaPONOROGO – Fadila Rahmatika (20), tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Ponorogo menjadi korban dugaan penyiksaan saat bekerja di Singapura hingga sempat mengalami guncangan psikologis.
Atas kasus dugaan yang belum ditindaklanjuti, keluarganya telah melaporkan ke kepolisian.
“Saya sudah melaporkan ke Polda bulan lalu. Harapannya segera ditindaklanjuti,” kata Masringah, ibu Fadila.
Masringah, yang didampingi pengacara dan Keluarga Besar Buruh Migran (Kabar Bumi) telah melaporkannya  pada 21 Januari 2017. Pihak terlapornya adalah seorang perekrut Fadila dari salah satu Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) di Surabaya yang memiliki cabang di Ponorogo.
Diketahui lewat PJTKI itu, Fadila berangkat ke Singapura pada Februari 2016. Selama di Singapura ia sudah dua kali ganti majikan, dan kekerasan terjadi saat ia bekerja di majikannya yang kedua.
Menurut Marjaenah, salah seorang pendamping Fadila,majikannya tidak dapat dilaporkan karena harus melibatkan pemerintahan antarnegara. ‘’Karena posisi majikannya di Singapura. Maka, kami melaporkan dulu yang di sini (Indonesia),’’ ujarnya.
Sebagai tindak lanjutnya, hari ini, Selasa (14/2/2017) mereka berencana akan kembali ke Polda Jawa Timur  untuk segera dibuatkan berita acara pemeriksaannya (BAP).
Kepergian mereka tidak lain untuk mencari keadilan, karena hingga kini kasus ini masih digantung begitu saja.
Fadila, yang kini sudah kembali di Ponorogo sempat mengalami guncangan psikologis dan menjalani perawatan medis di rumah sakit Ponorogo dan Rumah Sakit Jiwa Surakarta, Jawa Tengah, selama 18 hari. Hingga kini kondisinya belum pulih benar. “Belum pulih total, mengingat (penyiksaan) yang dialaminya masih sepotong-sepotong,’’ tutur Marjaenah
Read more

Di Terjang Longsor 16 Rumah Di Desa Tumpak Kecamatan Sawo Ponorogo Rusak


info media
PONOROGO - Sebanyak enam belas rumah di Desa Tumpak, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo rusak menyusul bencana longsor diikuti tanah gerak menerjang desa itu sejak Minggu (12/2/2017). Longsor dan tanah gerak menerjang Desa Tumpak setelah hujan deras mengguyur desa itu selama dua jam lebih.

"Ada empat dukuh di Desa Tumpak yang terdampak bencana longsor dan tanah gerak pasca hujan deras melanda desa itu. Total rumah yang rusak akibat bencana longsor dan tanah gerak di empat dukuh sebanyak 16 rumah," kata Kasubag Humas Polres Ponorogo, AKP Sudarmanto, Senin ( 13 / 2 / 2017).
Rinciaannya, Dukuh Gondang sebanyak dua rumah rusak, Dukuh Sumber empat rumah, Dukuh Salam delapan rumah, dan Dukuh Ngengor satu rumah.
"Tak hanya rumah, dilaporkan satu musala di Dukuh Salam milik warga juga rusak diterjang longsor," kata Sudarmanto.
Terhadap bencana itu, aparat desa dan aparat polsek setempat ke lokasi mengecek kondisi rumah warga yang rusak. Dipastikan tidak ada korban jiwa dalam musibah yang merusakkan 16 rumah warga Desa Tumpak.
Warga diimbau waspada dan siaga bila hujan deras. Bila perlu warga mencari tempat aman saat hujan deras mengguyur dalam waktu yang lama.
"Tadi warga bersama aparat desa dan aparat keamanan juga gotong royong membersihkan bekas longsoran yang menimpa rumah masyarakat
Read more

Senin, 13 Februari 2017

Heboh..!!! Ada Empat Titik Semburan Air Kapur Muncul di Ponorogo


Dalam sepekan terakhir, empat titik semburan air kapur mendadak muncul di Dusun Mendak Ilang, Desa Tulung, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Air yang menyembur ke atas itu diduga berasal dari sungai bawah tanah di desa tersebut.

"Tekanan air besar yang berasal dari sungai bawah tanah membuat air menyembur ke atas. Pantuan kami, ada empat titik semburan air kapur di Desa Tulung," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Ponorogo Setyo Budiono, Senin (13/2/2017).

Menurut Budi, berdasarkan penelusuran timnya, semburan air kapur muncul di desa itu muncul saat musim penghujan tiba.

Semburan air kali ini paling besar karena intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa bulan.

"Semburan air di desa itu sudah biasa. Tetapi tahun ini semburannya paling besar karena curah hujan yang tinggi. Bahkan tekanan airnya menyamai semprotan air mesin penyedot air berkapasitas 10 PK," kata Budi.

Budi menyebutkan, meski airnya jernih, tetapi saat airnya direbus akan muncul banyak endapan kapur. Kondisi itu terbukti saat warga setempat merebus air tersebut. Hasilnya, banyak endapan kapur di panci tempat merebus air itu.

"Selain itu, tak jauh dari lokasi terdapat bukit yang banyak mengandung kapur," ujar Budi.

Meski semburan airnya makin membesar, kondisi itu tidak membahayakan warga setempat. Air yang menyembur keluar langsung dialirkan ke sawah warga.

Menurut Budi, biasanya semburan air kapur akan menghilang saat hujan tak lagi mengguyur desa itu.

Ia mengimbau warga untuk tidak mengkonsumsi air tersebut untuk kebutuhan air minum.
Read more

Longsor Rusak Satu Rumah di kecamatan sambit Ponorogo


info mediaLongsor kali ini diduga karena hujan berkepanjangan. Tidak hanya itu, intensitas hujan juga cukup deras, sehingga mengakibatkan longsor.

"kondisi tanah lembek di Sambit, sehingga tanah longsor dan menghantam rumah di daerah tersebut. Apalagi hujan berkepanjangan dengan intensitas tinggi pada Minggu (12/2/2017) sekitar pukul 13.00 WIB hingga 16.00 WIB, " kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo, Setyo Budiono, Senin (13/2/2017).

Dia mengatakan, longsoran tanah masuk ke dalam rumah bagian dapur setinggi 6 meter dan lebar 12 meter. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam bencana ini.

Namun, lanjut dia, bagian dapur rumah mengalami kerusakan parah. Diperkirakan kerugian mencapai sekitar Rp 10 juta. 

Budi menuturkan, saat ini BPBD Ponorogo sudah membagi beberapa tim untuk menyiapkan akomodasi yang diperlukan di lapangan dan melakukan pendataan.

"Rumah masih terkena longsoran dan akan dilakukan kerja bakti hari ini," katanya.
Read more

Polsek Ponorogo Terus Selidiki Kasus Pengeroyokan Maling Buah


info mediaKasus maling buah di pusat kuliner Ponorogo, Jalan Suromenggolo, Kelurahan Nologaten, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo yang dikeroyok massa kemudian tewas berbuntut panjang. Pihak Polsek Ponorogo mengusut siapa yang mengeroyok Krisnanda, warga Jalan Pramuka, Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo.

Kapolsek Ponorogo, AKP Suyanto, mengatakan pihak keluarga Krisnando sudah menerimanya sebagai musibah. Korban yang tewas memang ada gangguan jiwa, sesuai dengan surat dari UPT Eks Rehabilitasi Sosial Kediri.

"Pihak keluarga sudah menerimanya. Namun pihak kami tetap memprosesnya. Saat ini dalam lidik," katanya kepada beritajatim.com, saat dihubungi via telepon, Minggu (12/2/2017).

Suyanto mengaku memang ada benerapa orang yang ke rumah duka untuk minta maaf karena telah mengeroyok. Pun keluarga telah memaafkan.

Namun,lanjut dia, proses penyelidikan tetap berlangsung. Dia mengatakan ada tiga sampai empat orang telah diperiksa. Termasuk, Beni (32) penjaga warung yang mendapati Krisnanda mencuri buah. "Tapi semua masih saksi. Belum mengarah ke tersangka pengeroyokan. Semua kan perlu proses," pungkasnya. 

Sumber : beritajatim.com
Read more