Tampilkan postingan dengan label KISAH NYATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH NYATA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juli 2016

Kisah Haru Suami Yang 'Ikut Pergi' Usai 2 Hari Istri Meninggal



info mediaMeninggal, tidak ada yang dapat menyangkal atau menentang jika memang sudah ditakdirkan waktunya.
Cuma kita tidak tahu bila kita akan meninggal, mungkin besok, mungkin lusa, mungkin bertahun-tahun lagi atau berpuluh tahun lagi.
Bagi pasangan suami istri di Malaysia ini tampaknya sang suami tahu yang beliau akan 'pergi' setelah istrinya meninggal, apa yang lebih menyedihkan kepergian mereka meninggalkan lima orang anak yang yatim yang masih butuhkan permbelaan di mana yang kecil baru berumur tiga tahun.

Dilansir Siakapkeli, mari kita baca kisah cinta mereka yang dicerikan oleh anak saudara mereka Aisyah Iskandar melalui halaman Facebooknya.
INI KISAH CINTA
Arwah bibi saya, Safarina Ismi didiagnosis dengan kanker payudara 2 tahun lalu. Waktu tu kanker masih tahap 2. Saya panggil arwah, Cik Amy.


Cik Amy ini orangnya lemah lembut, baik, cantik. Saya memang dekat dengan Cik Amy. Cik Amy ini istri adik Baba saya, Azizi Zulkifli (cik G) yang baru meninggal semalam.
Sejak Cik Amy sakit, macam macam cara mereka mencoba utk mengobati kanker, alternatif, modern, homopati, you name it. Semua dah coba. Mereka usaha. Kadang-kadang Cik Amy okay sehat ceria macam orang tak sakit. Tapi kadang-kadang Cik Amy jatuh sakit.
Sampailah puncaknya pada akhir tahun lalu bila kanker Cik Amy dah mencapai ahap 4. Dokter sarankan buat chemotherapy. Cik Amy buat. Dia jadi kurus sangat, rambut rontok, makin sakit. Cik G, setia menemani dan menjaga Cik Amy dari awal Cik Amy sakit lagi cik G positif sangat, yakin istri dia akan sehat. Meskipun kanker Cik Amy dah merebak waktu tu.
Mereka dah menikah lebih 17 tahun. Cik G ni nampak galak tapi penyayang. -Lebih bila dia mulai kenal Cik Amy. Kehadiran Cik Amy dalam hidup Cik G menenangkan Cik G dari kehidupan dia yang huru hara masa muda. Cik Amy ini cinta mati dia. Sayang sangat. Pasangan ini dikaruniai 5 orang cahaya mata, 4 perempuan dan 1 pria.
Sepanjang Cik Amy sakit, Ms G jaga dengan penuh kasih sayang. Sampai tak tidur berminggu-, minggu. Nampak macam kuat. Tapi kenyataannya Cik G pun sakit. Cik G dikonfirmasi mengidap Hepatitis B. Tapi Cik G tak cerita pada siapa pun. Dia terus kuat demi istri tercinta dan anak2. Dia senyum. Dia gelak. Dia buat lawak. Kadang-kadang dia menangis.
Cik G dah lama sakit dan menderita. Tapi tetap kuatkan diri. Lawan sakit dia. Dia kena kuat. Kalau dia tak kuat, siapa yang mau memberikan dan jadi kekuatan untuk isteri dia. Cik Amy yang sakit tu pun tak sanggup tengok susah payah suami dia menjaga dia sampai tak tidur-tidur.
Waktu bulan Ramadan hari itu saya ziarah Cik Amy dekat rumah. Cik Amy cakap:
"Cik Amy kesian tengok Cik G tu. Dia penat terkejar sana sini. Jaga Cik Amy sampai tak tidur. "
Bila saya tanya macam mana kondisi Cik Amy, dia cakap macam ini saja:
"Cik Amy sakit ni bawa Cik Amy dekat lagi dengan Allah. Cik Amy tak takut kalau Cik Amy diundang. Tapi Cik Amy kesian kat anak-anak. Macam mana dorang kalau Cik Amy tak ada. Kesian Cik G "
Sebelum Cik Amy meninggal dia sempat minta ampun maaf dari Cik G. Cik G cakap dia ampunkan:
"Sayang pergilah dulu, nanti abang ikut"
Cik Amy meninggal pada 13/7/2016 12:28 AM di rumah sakit pada usia 37 tahun. Sedihnya Cik G jangan cakap la. Cinta hati dia dah pergi buat selama-lamanya. Lalu Cik Amy dimakamkan dia cakap kat adik beradik dia pun nak mati dah. Semua orang ingat dia beremosi karena terlalu sedih. Dia langsung tak lalu makan dan mulai lemah. Demam parah.
Hari kamis 14/7/2016 Cik G di bawa ke rumah sakit sebab demam parah. Sebelum pergi hospital dia pesan kat anak sulung (perempuan, 16 tahun) Kak Long jaga adik-adik ya.
Bila sampai di rumah sakit rupanya Cik G dah kritis. Semua organ internal dah mulai tak berfungsi. Usus bocor, ginjal buat hal, empedu pecah. Allahu. Buat semua orang wonder macam mana Cik G mampu bertahan dengan sakit yang macam ni. Dokter tidurkan Cik G. Duduk dalam ICU. Dalam ICU tiu dua kali jantung Cik G terhenti. Semua dah mula risau. Barulah semua adik beradik Cik G tahu yang Cik G sebenarnya dah lama sakit.
Sebelum jantung dia terhenti kali kedua tu dia tersadar dan minta bawak anak-anak dia tengok dia. Dia tahu dia nak pergi dah. Allahu. Sedih betul saat ini. Semua menangis. Semua adik beradik menangis dan ponsel mana yang jauh untuk balik tengok Cik G.
Oh lupa nak bagitahu. Keluarga kami ni besar. Adik beradik ayah ada 18 orang. 14 pria, 4 perempuan. yang sulung dah meninggal, yang lain semua ada lagi. Cik G nomor 13. Bawah Baba. Paling dekat dengan Baba. Bayangkanlah kesedihan Baba bila tau adik dia kritis. Baba sakit-sakit pun minta bawakan dia balik Ipoh nak tengok adik dia.
Tapi Allah lebih sayang Cik G. Jumat, 12:58 siang, jatungnya terhenti terus. Pada usia 47 tahun, Ms G pergi buat selama-lamanya. Tunaikan janji yang dia akan menyusul istri tercinta. Meninggalkan 5 orang anak yang berusia 3 tahun - 16 tahun. Sedihnya tak tahu nak cakaplah. Dalam waktu 2 hari je anak-anak jadi yatim piatu.
Bila Cik G dah tak ada barulah semua orang sadar yang selama ni bila Cik G sedih, menangis, bukan karena istrinya sakit. Tapi sebab dia pun sakit parah. Dia khawatir dia akan pergi dulu sebelum istrinya
Ketika mengetik ini pun air mata saya tak nak berhenti mengalir. Saya dekat dengan mereka berdua. Kenangan bersama tak pernah berhenti berputar dalam ingatan.
Kepada yang membaca, sedekahkanlah Al fatihah buat pasangan suami isteri ni. Mereka dah berjanji sehidup semati.
Read more

Kamis, 07 Juli 2016

Kisah Kapten Mardani, 15 Tahun Lebaran di Atas Kapal



info media Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran menjadi momen yang spesial dan ditunggu-tunggu setiap warga muslim. Di Indonesia, ‎jutaaan masyarakat rela bepergian puluhan bahkan ratusan kilometer untuk merayakan Lebaran bersama keluarga dan sanak saudara.  Namun momen setahun sekali ini, belum tentu bisa dirasakan semua Muslim.
Salah satu yang belum berkesempatan merasakan Lebaran kembali bersama keluarga adalah Kaptain Mardani. Seorang pemimpin kapal yang menyeberang dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Bakauheni ini telah 15 tahun tidak berlebaran bersama keluarga.

"Sejak saya menjadi Kaptain kapal, saya belum pernah lagi merasakan Lebaran bersama keluarga dan pulang kampung di saat Idul Fitri," kata Mardani di sela-sela perjalanan menuju Pelabuhan Bakauheni, Selasa (4/7).

Sebagai seorang Kaptain kapal, Mardani memang memiliki tugas cukup berat. Dibantu sejumlah asisten atau Mualim yang terdiri dari juru mudik, kelasi, dan anak buah kapal, Mardani sebenarnya tidak banyak menggerakkan tangan. Dia hanya memerintahkan dan memastikan semua pekerjaan tepat. Hal itu terutama pada saat menaikkan dan menurunkan penumpang di pelabuhan.

Meski terlihat mudah, tugas ini sebenarnya sangat sulit dilakukan oleh orang di kapal. Hal inilah yang membuat Mardani tidak boleh izin cuti kerja di saat Lebaran. Karena trip kapal menjelang dan sesudah Lebaran sangat padat, maka dibutuhkan keahlian kapten kapal yang sudah berpengalaman.

"H-7 sampai H+7 kita tidak boleh cuti, kecuali untuk hal darurat. Makanya kita sering Lebaran di kapal," ujar Mardani

‎Meski harus berlebaran di kapal, Mardani menuturkan bahwa keluarganya di Jakarta sudah menyadari bahwa mereka akan sulit bertemu Mardani di waktu Lebaran. Dengan tanggung jawab Mardani yang sangat berat dalam menjalankan kapal, pihak keluarga pun akhirnya terbiasa.

Menurut dia, sebelum H-7 Lebaran, ia selalu menyempatkan untuk cuti kerja. Hal ini dilakukan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga sebelum berkecimpung dengan pekerjaannya yang berada di lautan.

Meski tak bisa pulang di waktu Lebaran, keluarga Mardani bukan tidak bisa menemuinya. Jika trip yang dilakukan bertepatan saat Mardani ada di Pelabuhan Merak saat hari raya Idul Fitri, keluarganya kerap datang ke pelabuhan dan naik ke kapal untuk bertemu Mardani.

"Kalau dekat kapal (di Pelabuhan Merak) mereka datang‎. Kalau jauh (Pelabuhan Bakauheni) ya nggak," kata dia.

Perjalanan kapal Merak-Bakauheni yang biasanya 2-3 jam sekali membuat waktu kapal berada di laut tak menentu. Saat menyandar pun‎ seluruh ABK kapal tidak bisa menyentuh daratan, mereka harus segera menjemput penumpang yang ingin naik ke kapal untuk segera berangkat ke pelabuhan selanjutnya.

Dengan kondisi ini, Mardani menjelaskan bahwa dia dan seluruh ABK kapal hampir tiap tahun melakukan Salat Idul Fitri di kapal. Anjungan paling atas yang cukup luas pun menjadi pilihan untuk diadakannya shalat id. "Kita ada (shalat Id) di belakang (anjungan)‎. Biasanya memang di situ," kata Mardani.

Menurut Mardani, bukan hanya ABK kapal yang selalu menjalankan shalat id di kapal, saat ada penumpang yang bertepatan berada di kapal, mereka juga nantinya akan ikut shalat berjamaah. Usai shalat berjamaah, ‎seluruh ABK dan penumpang tak lupa bersalam-salaman dan bersilaturahmi. Sayang makanan khas Lebaran yaitu opor dan ketupat belum tentu bisa dinikmati ABK kapal. Sebab tak selalu koki kapal menyediakan makanan khas Idul Fitri itu.
Read more

Kamis, 26 Mei 2016

Aku Tak Rela Alquran Ponorogo Dibeli Museum Belanda

PONOROGO - Tidak mudah merawat dan mengoleksi barang-barang berusia ratusan tahun. Apalagi jika barang itu berupa kitab-kitab kuno seperti milik Taufik Andika Hidayat.


SALMAN MUHIDDIN
’’BARANG iki cocok gawe kowe le,’’ kata Taufik yang menirukan perkataan ayahnya. Saat itu Taufik masih mahasiswa. Dia diberi bungkusan kain putih. Isinya tiga kitab kuno bertulisan bahasa Arab.
Yakni, Alquran, nahu, dan fikih. Dia tidak sempat bertanya dari mana Said Wiwik Hidayat, ayahnya, mendapatkan kitab tersebut. Sampai akhirnya ayahnya meninggal pada 1987.
Ayah Taufik adalah wartawan perang dari Kantor Berita Antara. Dia juga dikenal sebagai sejarawan sekaligus pelukis. Banyak barang peninggalan yang diwariskan ke anak-anaknya.
Taufik adalah anak sulung yang mengikuti jejak ayahnya sebagai pelukis dan tertarik pada sejarah. Itu pula yang membuat Taufik mencari informasi lebih dalam tentang tiga kitab itu,
Rasa penasaran mempertemukannya dengan seorang ahli kitab kuno lulusan salah satu universitas di Belanda, Amiq Ahijad.
’’Karena dia baru lulus S-3 dari Belanda, saya beri dia kitab itu. Mumpung otaknya masih encer,’’ kata alumnus Universitas Brawijaya jurusan ekonomi itu.
Setelah mempelajarinya, Amiq menyimpulkan bahwa kitab itu berasal dari Ponorogo. Keluaran awal abad ke-18. Kesimpulan tersebut diambil karena dia pernah mempelajari kitab serupa.
Pada masa lalu, kitab itu menjadi buku pendamping bagi ustad pondok yang mengajar santrinya. Isinya Alquran, nahu tentang tata bahasa, dan fikih yang mengandung hukum berbagai aspek kehidupan manusia.
Berbekal informasi tersebut, Taufik menyimpulkan bahwa awal abad ke-18 yang dimaksud itu berkisar tahun 1700–1730. Dia menggali informasi dari internet.
’’Saya cari di mbah Google. Ternyata pada tahun segitu tepat dengan berdirinya pondok Tegalsari. Padahal, selama belasan tahun saya mengira Alquran ini dari Madura,’’ kata Taufik, lalu membetulkan kacamatanya yang melorot.
Saat itu masih 2004. Amiq memberi tahu bahwa kitab tersebut ditawar salah satu museum di Belanda.

’’Pokoknya ditawar Rp 120 jutaan. Dengan uang segitu, sudah bisa beli rumah di daerah MERR (middle east ring road, Red),’’ kata Taufik, lantas tertawa.
Dia heran karena museum Belanda mau membayar tinggi. Setelah ditelusuri, ternyata di museum itu banyak benda bersejarah dari Indonesia yang dikirim ke Belanda saat zaman penjajahan dulu.
Pria yang pernah bekerja sebagai broker pasar modal itu sempat memikirkan tawaran tersebut. Tapi, saat itu hati kecilnya menolak.
’’Saya tidak rela barang bersejarah Indonesia dinikmati bangsa lain. Sebab, ada juga Alquran buatan Indonesia tahun 1400 di sana. Alhamdulillah, saat itu perekonomian saya cukup, jadi tidak saya jual,’’ lanjut dia.
Taufik terpaksa berbohong kepada Amiq saat ditanya apakah masih tertarik menjual. Dia mengatakan, Alquran dan kitab lain sudah laku, dibeli orang Indonesia. Padahal, buku itu tersimpan rapi di rumahnya.
Setelah menjelaskan sejarah tiga kitab tersebut, Taufik mengambil kotak berwarna abu-abu. Saat dibuka, tampak tiga kitab. Tebal, tipis, dan tipis. Alquran tampak paling tebal, sekitar 20 sentimeter.
Sedangkan kitab nahu dan fikih tipis, hanya puluhan halaman. Kondisinya sedikit rusak. Ada bagian yang berlubang karena dimakan rayap. Untung, bagian itu hanya di pinggiran.
Kertasnya berwarna kuning kemerahan. Tinta tulisannya masih sangat jelas dibaca. Terdapat tambahan tanda baca atau harakat di Alquran.
Sedangkan dua kitab lain bertulisan huruf Arab gundul. Sampul kitab-kitab itu masih berupa anyaman mirip tikar.
’’Memang dahulu tidak ada sampul karton yang bagus-bagus,’’ tambah Taufik sambil membuka kitab-kitab tersebut.
Khusus untuk Alquran, Taufik telah mengganti bagian sampulnya. Sebab, saat diberi ayahnya, bagian sampul itu sudah rusak parah dan berjamur.
Agar kerusakan tidak menyebar, dia menggantinya dengan sampul karton berwarna hijau. Tapi, kini dia menyesal telah mengganti sampul itu.
’’Padahal, lebih bagus kalau aslinya. Tapi, tak apa lah, daripada rusak semua kena jamur,’’ kenangnya sambil mengangguk-angguk.
Karena sudah berusia ratusan tahun, tiga kitab itu sangat rapuh. Namun, Taufik yang memiliki ratusan koleksi barang antik punya cara sendiri untuk menjaganya. Dia memakai bubuk merica atau lada hitam.
’’Ditambah kapur barus. Cara itu juga saya pakai untuk melindungi koleksi wayang kulit dari kutu dan rayap,’’ paparnya.
Buku-buku tersebut juga harus terhindar dari udara lembap. Kalau sampai terkena udara lembap, buku-buku itu dipastikan berjamur dan hancur.
Karena itu, dia menyimpan kotak berisi tiga kitab tersebut di tempat terbuka di ruang tamu. Sesekali kotak itu dibuka dan dibersihkan secara berkala.
Pada 16 Mei lalu, Taufik bertemu dengan salah seorang sejarawan Universitas Negeri Surabaya Prof Aminudin Kasdi.
Secara kebetulan, keduanya memang tinggal di kompleks perumahan yang sama di Jemursari. Saat itu Kasdi menyuruhnya menemui seseorang di UIN Sunan Ampel Surabaya.
’’Beliau membuatkan surat untuk saya kirim. Tapi, saya belum ke sana karena baru pulang dari Jogjakarta,’’ ujarnya.
Di dalam tulisan Kasdi, surat itu ditujukan ke Fakultas Adab UIN Sunan Ampel Surabaya. Isinya, Kasdi merekomendasi agar UINSA membeli kitab itu.
Sebab, menurut Kasdi, buku tersebut terbuat dari kertas daluang. Itu adalah kertas yang sama dengan buku kuno Belanda Het Van Gogh Boek.
Rencananya, Taufik memang ingin mencari museum yang berminat dengan tiga kitab itu. Dia akan sangat bangga bila koleksinya tersebut bisa dinikmati masyarakat.
Selain tiga kitab itu, Taufik memiliki banyak koleksi yang tidak kalah unik. Sebagian dia peroleh dari Kediri dan Blitar.
”Di sana istri saya punya perkebunan. Kediri dan Blitar kota tua punya banyak cerita,” ujar suami Mamiek Sukarti Ningsih itu. Saking banyaknya koleksi, tidak semua bisa ditampung di dalam rumah.
Beberapa patung, fosil kerang raksasa, kelereng batu, dan miniatur kereta api diletakkan di teras.
Di dalam rumah ada puluhan lukisan, wayang kulit, fosil sarang tawon, fosil bawang putih, guci dari Tiongkok, piring keramik, kamera era 1900-an, dan ratusan uang kuno.
”Semuanya terkumpul sejak saya SD. Dulu saya suka ikut bapak melakukan penelitian ke situs-situs sejarah,” sambung pria yang pernah berkuliah di Seni Rupa ITB itu.
Dari seluruh barang antik dan kuno tersebut, Taufik membedakan menjadi dua. Pertama, barang kuno dan kedua, barang kuno yang memiliki cerita. Nilai cerita itulah yang tak ternilai.
Bagi dia, itu menjadi jawaban mengapa museum Belanda mau menawar tiga kitab miliknya dengan harga tinggi. Kini masih ada koleksi naskah Jawa kuno yang ditulis di daun lontar. Tak kalah tua dari tiga kitabnya.
info media,
Read more

Sabtu, 21 Mei 2016

Kisah Nyata Kuburan Dibongkar Mayatnya Duduk Besila Sambil Terdengar Bacaan Yasin

info media

Banyak kisah nyata terjadi disekeliling kita namun terkadang logika kita tidak berfungsi untuk menafsirkannya. Karena kisah ini adalah kisah benar terjadi di Arab Saudi disaat pembongkaran Kuburan Jemaah Haji. pada saat musim Haji di Mekkah, jika ada jemaah Haji meninggal dunia maka akan dimakamkan di Ma'la suatu tempat pemakaman jemaah haji di Mekkah, dan setelah delapan bulan makam tersebut dibongkar kemabli untuk memakamkan jenazah lain. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan Hikmah dari peristiwa ini.

Dan inilah kisah lengkapnya seperti yang dikutip dari melayukini.

Kisah ini kisah nyata dan benar terjadi seperti yang telah diceritakan oleh Mahasiswa Malaysia di Arab Saudi. Peristiwa ini baru saja terjadi dan disahkan benar oleh Ustadz Halim Naser, penceramah yang amat terkemuka di Malaysia.

Peristiwa ini terjadi pada suatu hari di musim haji yang lalu, mahasiswa Malaysia yang sama-sama menunaikan haji ikut tergabung dengan seorang Arab untuk mengubur seorang  mayat yang meninggal dunia pada musim haji. Makam tersebut terletak di Ma'la, tempat pemakaman para jemaah haji yang meninggal dunia di Makkah.


Cara yang mereka kebumikan mayat adalah dengan cara meninggalkan mayat dalam lubang yang disediakan dan
menutupnya untuk sekitar delapan bulan. Setelah delapan bulan, lubang itu akan dibuka kembali untuk menguburkan mayat yang baru. Pada hari tersebut, ketika satu lubang dibuka untuk mengubur.
mayat yang baru, orang Arab tersebut berhamburan lari karena dia nampak mayat sedang bersila, bukan tidur seperti kebiasaannya. Penuntut Malaysia ini memberanikan diri merangkak ke dalam kubur tersebut untuk melihat dengan lebih jelas. Hasilnya dia merasa memang mayat tersebut sedang bersila dan mayat tersebut sedang membaca Al-Quran, dan Al-Quran tersebut memang yang asli.

Setelah dilihat berikutnya. Ayat Quran yang terbuka adalah Surah Yasin. Satu hal adalah mayat tersebut tidak membusuk dan kain yang membalutinya juga tidak busuk. Yang membusuk hanyalah kapas yang ditempatkan di antara mayat dengan kain kafan (kain ehram).

Setelah dilakukan penelitian, ternyata mayat tersebut adalah mayat seorang pria berkulit hitam yang kerjanya adalah membersihkan Baitullah dari tumpahan air zam-zam. Kerjanya tiada lain selain membersihkan Baitullah jika ada tumpahan air zam-zam. Jika tidak ada tumpahan, dia akan duduk di satu sudut Baitullah dan membaca Surah Yasin.

Itulah kelebihannya bagi orang yang berbakti ke jalan Allah. Inilah yang membuat kita semakin berkobar-kobar untuk mengunjungi Baitullah.


Read more

Minggu, 08 Mei 2016

kisah nyata yang menyentuh hati : Papa, Kembalikan tangan Ita….! Ita janji tidak nakal lagi

info media
Untuk para orang tua yang anaknya kreatif, jangan lagi dipukul ya.. Tolong baca kisah nyata yang menyentuh hati ini, cerita tentang seorang anak kecil bernama Ita yang memohon pada papanya untuk kembalikan tangannya.
Sebagai orang tua kita patut menghalangi perbuatan pasangan untuk memukul sang buah hati.Khususnya pada anak-anak yang masih kecil dan tak tahu apa-apa.



Mengajar dan memberikan pembelajaran dengan cara memukul bukanlah cara terbaik.
Papa, Kembalikan Tangan Ita
Inilah kisah nyata itu:

Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak untuk diasuh pembantu rumah ketika mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Sendirian di rumah, dia sering dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja.
Dia bermain diluar rumah. Dia bermain ayunan, berayun-ayun di atas ayunan yang dibeli papanya, ataupun memetik bunga matahari, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi karena lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu berwarna putih, coretannya tampak jelas. Apa lagi kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu bapak dan ibunya mengendarai motor ke tempat kerja karena jalan macet. Setelah sang anak mencoret penuh sisi yang sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ayam dan gambarnya sendiri dan sebagainya untuk mengikuti imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah.

Pulang petang itu, terkejutlah ayah ibunya melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, ‘Kerjaan siapa ini?’ Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya.

Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘Tak tahu… !’ ‘Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?’ hardik si isteri lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata ‘Ita yg membuat itu papa…. cantik kan!’ katanya sambil memeluk papanya ingin bermanja seperti biasa. Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya.

Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan
hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa? Si bapak cukup keras memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya.

Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka-lukanya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.
 
Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. ‘Oleskan obat saja!’ jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. ‘Ita demam…’ jawab pembantunya ringkas.
‘Kasih minum obat penurun panas ,’ jawab si ibu.

Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Memasuki hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. ‘Sore nanti kita bawa ke klinik’ kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan ia dirujuk ke rumah sakit karena keadaannya serius. Setelah seminggu di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu.

‘Tidak ada pilihan..’ katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu diamputasi karena gangren yang terjadi sudah terlalu parah.
‘Tangannya sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah’ kata dokter.

Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yang dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketar menandatangani surat persetujuan pembedahan.

Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.

‘Papa.. Mama… Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau dipukul papa. Ita tak mau jahat. Ita sayang papa.. sayang mama.’ katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.

‘Ita juga sayang Kak Narti..’ katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis itu meraung histeris.

‘Papa.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa diambil.. Ita janji nggak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret-coret mobil lagi,’ katanya berulang-ulang.

Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.

Pelajaran yang sangat berharga buat para orang tua, anak nakal itu biasa, kalau anak kecil terluka, berilah perhatian sendiri pada anak dan jangan bergantung pada pembantu. karena mereka sejatinya hanya membantu. Tugas utama mendidik anak ada di tangan anda!!!
Read more

Sabtu, 30 April 2016

Kisah Nyata Darwati, dari PRT Menjadi Wisudawati Terbaik di Semarang




SEMARANG – “Hujatan dan hinaan itu biasa bagi saya. Tapi, jadikan itu motivasi untuk pembuktian, bahwa kita memang bisa,” kata Darwati, seorang pembantu rumah tanga yang berhasil memperoleh gelar sarjana terbaik di kampusnya di Kota Semarang, Rabu (20/5/2015).

Darwati, kini berusia 23 tahun, memang seorang pembantu rumah tangga.
Tiap hari, ia bekerja, mulai dari mengepel, menyapu rumah, hingga membersihkan pekarangan majikannya di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Pekerjaan itu dijalaninya hampir selama lima tahun, semenjak ia belum masuk kampus.
Saat hendak masuk kuliah, ia minta izin kepada majikannya.
Beruntung, sang majikan merestui langkahnya.

Dia bergegas mendaftar diri ke universitas yang ditujunya.

Gadis dari desa Gulungan Rt 02/1 Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah itu masuk dan mengambil kuliah jurusan administrasi publik di kampus Universitas 17 Agustus 1945 di Kota Semarang, sejak tahun 2011 lalu.

Darwati pun berhasil duduk di bangku kuliah, menimba ilmu. Tiap awal pekan, atau ketika ada jadwal kuliah, ia minta izin dari pekerjannya.
Selama tiga hari (Senin, Selasa, dan Rabu), dia meninggalkan kerjanya untuk belajar.
Selain hari itu, dia pulang dan kembali bekerja di rumah majikannya di Jalan Hayam Wuruk, Purwodadi.
Darwati mengaku sadar betul dengan kondisinya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Namun, alasan tersebut nyatanya tak menjadi halangan serius.

Dengan keinginan kuat untuk memperbaiki nasib, Darwati meneruskan niatnya belajar.
Proses yang “berat” itu ternyata membuat pribadi Darwati menjadi lebih tangguh.
Gadis berparas ayu ini pun lulus dengan predikat cum laude dengan indeks prestasi kumulatif 3,68 itu akhirnya mampu mewujudkan mimpinya.

Upahnya sebagai PRT semula hanya sebesar Rp300.000 per bulan.
Uang itu sebagian disisihkan. Selama 4,5 tahun bekerja, upahnya perlahan naik, hingga ia merasakan upahnya cukup untuk membiayai biaya kuliahnya hingga lulus kuliah.

“Bayar kuliahnya per semester Rp 2,5 juta. Upah saya kalau dikumpulkan ya, sudah cukup untuk bayar kuliah. Kalau merasa butuh banget, baru minta bantuan orangtua di kampung. Kadang pas mau kuliah ke Semarang dikasih uang saku sama majikan,” kata Darwati.

Menyeimbangkan kuliah dan bekerja sebagai PRT diakui Darwati sangat sulit, terutama ketika harus membagi waktu.

Terlebih, pekerjaan secara fisik yang dilakukannya tentu akan berimbas pada konsentrasinya.
“Kadang, apa yang disampaikan dosen ya lewat kuping saja. Tidak masuk, karena saya tidak fokus, karena capek juga,” ucap dia.

Kendati demikian, dia mengaku tetap bersungguh-sungguh dan berniat menjalaninya.
Hasilnya, saat wisuda yang digelar Selasa (19/5/2015) kemarin, ia didapuk sebagai sarjana terbaik di jurusannya, administrasi publik.

“Saya masih belum bisa menyangka, saya ternyata bisa berhasil,” tuturnya.
Dia pun lantas berujar, selama pekerjaannya halal, pekerjaan apapun akan dilakukan, termasuk menjadi PRT.

Jika ada orang yang menghina, bahkan menyepelekan, hal itu harus dijadikan motivasi untuk menggapai perubahan.

Read more

Kisah Nyata Kesaksian Orang Mati Suri


Merinding dan menangiskah kalian setelah membaca kisah nyata kesaksian orang mati suri ini? Semoga kisah ini dapat dijadikan pelajaran bagi Kita yang masih hidup di dunia ini.
Dia adalah Aslina. Aslina adalah warga pekan baru yang mati suri 24 Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati suri.
Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi memberikan penjelasan pembuka. Aslina berasal dari keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak kecil cobaan telah datang pada dirinya. Pada usia tujuh tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia termakan racun. Tersebab itu ia menderita selama tiga tahun.
Pada usia 20 tahun ia terkena gondok (hipertiroid). Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24 Agustus 2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknya di Rumah Sakit di jakarta. Setelah itu, Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa dioperasi. “Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan”, jelas Rustam. Oleh karena itu Aslina hanya diberi obat. Namun kondisinya tetap lemah.
Malamnya Aslina gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa Aslina kembali ke jakarta sekitar pukul 12 malam itu. ia dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak jantungnya dan napasnya sesak. Lalu ia dibawa ke luar UGD masuk ke ruang perawatan. ”Aslina seperti orang ombak (menjelang sakratulmaut). Lalu saya ajarkan kalimat thoyyibah dan syahadat. Setelah itu dalam pandangan saya Aslina menghembuskan nafas terakhir.” ungkapnya.
Usai Rustam memberi pengantar, lalu Aslina memberikan kesaksiannya. ”Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon penghuni kubur.” Begitu ia mengawali kesaksiaanya setelah meminta seluruh hadirin yang memenuhi Grand Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru tersebut membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa ia juga menasehati jamaah untuk memantapkan iman, amal dan ketakwaan sebelum mati datang.
”Saya telah merasakan mati”, Ujar anak yatim itu. Hadirin terpaku mendengar kesaksian itu. Sungguh, lanjutya, terlalu sakit mati itu. Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari daging, dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi. ”Terasa malaikat mencabut (nyawa) dari kaki kanan saya”, tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh pamannya kalimat thoyibah. ”Saat di ujung napas, saya berzikir”, ujarnya. ”Sungguh sakitnya, Pak, Bu…” ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ Pekanbaru.
Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad, ia menyaksikan di sekelilingnya ada dokter, pamannya dan ia juga melihat jasadnya yang terbujur. Setelah itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan “Assalammualaikum” kepada ruh Aslina. ”Malaikat itu besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot, gemetar,” ujar Aslina mencerita pengalaman matinya.
Lalu malaikat itu bertanya: “Siapa Tuhanmu, apa agamamu, dimana kiblatmu dan siapa nama orangtuamu?“ Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar. Lalu ia dibawa ke alam barzah.
”Tak ada teman kecuali amal,” tambah Aslina yang Ahad malam itu berpakaian serba hijau. Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malam itu ia tampil memberikan kesaksian bagaikan seorang muballighah.
Di alam barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang mukanya berkudis, badan berbulu dan mengeluarkan bau busuk. Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari orang tersebut.
Kemudian Aslina melanjutkan. ”Bapak, ibu, ingatlah mati,” sekali lagi ia mengajak hadirin untuk bertaubat dan beramal sebelum ajal menjemput. Di alam barzah, ia melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa dengan cerminan ayahnya. Lalu ia memanggil malaikat itu dengan ”Ayah”. ”Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan ayah saya,” tanyanya.
Lalu muncullah satu sosok. Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara 17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia 65 tahun. Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata: ”Wahai ayah, janji saya telah sampai.”
Mendengar itu ayah saya saya menangis. Lalu ayahnya berkata kepada Aslina. ”Pulanglah ke rumah, kasihan adik-adikmu.” ruh Aslina pun menjawab. ”Saya tak bisa pulang, karena janji telah sampai”. Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan kembali kepada hadirin bahwa alam barzah dan akhirat itu benar-benar ada. ”Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,” ujarnya bak seorang pendakwah.
Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya tersebut menunduk. Lalu dua malaikat memimpinnya kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi tersebut, disebelahnya terdapat seorang perempuan yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh Aslina bertanya kepada perempuan itu. ”Siapa kamu?” lalu perempuan itu menjawab, ”Akulah (amal) kamu.” Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya berjalan menelurusi lorong waktu melihat penderitaan manusia yang disiksa.
Di sana ia melihat seorang laki-laki yang memikul besi yang sangat berat, tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan baunya menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada amalnya. ”Siapa manusia ini?” Amal Aslina menjawab, “orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang”.
Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia tersebut tidak pernah shalat.
Selanjutnya tampak pula oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke tubuhnya. Ternyata orang itu adalah manusia yang suka berzina. Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu ketika hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain. Dilihatkan siraman juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlusiaan darah, orang tersebut menjerit dan tidak ada yang menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya.
Dan dijawab orang tersebut adalah orang juga suka membunuh. Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia. Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut.
Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang mengucap : Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar. Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya. Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki cerminan biji 99 butir. Perjalanan berlanjut. ia nampak siraman tepak tembaga yang sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak itu terdapat gambar kakbah. Di dalam tepak terdapat batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut adalah husnul khatimah. (Husnul khatimah secara literlek berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana manusia pada akhir hayatnya dalam keadaan berbuat baik).
Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan adzan seperti adzan di Mekkah. ia pun mengatakan kepada amalnya. ”Saya mau shalat”. Lalu dua malaikat yang memimpinnya melepaskan tangan ruh Aslina. ”Saya pun bertayamum, saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat,” ungkap Aslina.
Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut batangan-batang an emas di dalam tepak ”husnul khatimah” itu mengeluarkan cahaya terang. Berikutnya ia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil. Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina. ”Tolong kau sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan Allah”.
Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima meter dari siraman kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia itu berkata. ”Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini Ya Allah”, manusia-manusia itu juga memohon, ”Tolong kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.” Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang dilihat ruhnya saat ia mati suri. Dalam kesaksiaannya ia senantiasa mengajak hadirin yang datang pada pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat dan beramal shaleh serta tidak melanggar aturan Allah. ”Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang ditunjukkan Allah kepada kita semua, ” ujarnya.
Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang berteriak ingin dikembalikan ke dunia dan ingin beramal serta penelitian Raymond yang menyebutkan ”aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya.”
Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat Al-Mu’muninun (23) ayat 99-100:
“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: Ya, Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)” (99)
“Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (100)
Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat, dikutipkan juga Quran Surat Az-Zumar ayat 39:
”Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)
Read more